TIDAK DIPUJI DUNIA NAMUN DIPELUK DAN DICINTAI RASULULLAH
TIDAK DIPUJI DUNIA NAMUN DIPELUK DAN DICINTAI RASULULLAH
Categories:
Assalamu’alaikum…
Bismillah…
Di sudut Madinah yang tak ramai disebut orang, ada seorang lelaki yang kerap luput dari pandangan. Wajahnya tidak rupawan. Tubuhnya kurus, pakaiannya sederhana, bahkan sering terlihat lusuh. Jika orang-orang berjalan, mereka tak menoleh. Jika ia lewat, mereka jarang menyapa. Seolah dunia sepakat untuk tak memberinya ruang.
Namanya Zahir bin Haram Al-Asyja‘i رضي الله عنه.
Zahir bukan penduduk kota. Ia hidup di pedalaman. Jauh dari gemerlap Madinah. Jauh dari majelis-majelis besar. Namun sesekali, ia datang ke kota membawa hasil kebunnya. Ia gelar dagangannya di pasar. Diam. Tenang. Tanpa suara lantang. Tanpa senyum yang memikat. Ia tahu, tak banyak yang akan berhenti di hadapannya.
Zahir tahu dirinya tidak tampan.
Ia tahu manusia sering menilai dengan mata.
Dan ia telah berdamai dengan kenyataan itu.
Namun ada satu hal yang membuat dadanya tetap tegak meski dunia merendahkannya:
Rasulullah ﷺ mencintainya.
Setiap kali Zahir datang ke Madinah, Rasulullah ﷺ menyambutnya. Jika Zahir membawa hasil kebun, Rasulullah ﷺ membalasnya dengan hadiah. Bukan karena dagangannya istimewa, tetapi karena orangnya dimuliakan.
Bagi Zahir, itu lebih dari cukup.
Suatu hari, pasar Madinah kembali ramai. Orang-orang sibuk menawar. Suara langkah dan percakapan bersahut-sahutan. Di salah satu sudut, Zahir tengah menata dagangannya. Menunduk. Fokus. Tak menyadari siapa yang mendekat dari belakang.
Tiba-tiba, dua tangan kuat memeluk tubuhnya dari belakang.
Zahir terkejut. Ia meronta.
“Lepaskan aku!” serunya spontan.
Lalu terdengar suara yang begitu ia kenal—lembut, hangat, dan penuh cinta:
“Siapa yang mau membeli budak ini?”
Zahir terdiam. Jantungnya bergetar. Ia mengenali suara itu. Itu suara manusia paling mulia. Rasulullah ﷺ.
Orang-orang menoleh. Sebagian tersenyum. Sebagian heran. Zahir tak bisa melihat siapa yang memeluknya, namun hatinya tahu. Dengan suara jujur bercampur sedih, ia berkata:
“Wahai Rasulullah… kalau begitu engkau akan mendapatkan barang yang tidak laku.”
Ia berkata demikian bukan karena merendahkan diri, tetapi karena ia tahu bagaimana dunia memandangnya.
Rasulullah ﷺ tidak melepaskannya. Pelukan itu justru menguat. Lalu beliau mendekatkan wajahnya ke telinga Zahir dan bersabda dengan kalimat yang menghapus seluruh luka:
“Akan tetapi, di sisi Allah, engkau tidaklah murah.”
(HR. Ahmad – hasan)
Sejenak, dunia seakan berhenti.
Pasar. Manusia. Penilaian. Semua lenyap. Yang tersisa hanyalah satu kebenaran:
Nilai seorang hamba tidak ditentukan rupa dan harta, tetapi oleh bagaimana Allah memandangnya.
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda tentang Zahir:
“Zahir adalah orang pedalaman kami, dan kami adalah orang kota baginya.”
Itu bukan sekadar candaan. Itu pengakuan. Bahwa Zahir—lelaki yang sering tak diperhitungkan—memiliki tempat khusus di hati Rasulullah ﷺ.
Zahir tidak dikenal sebagai panglima.
Ia bukan ahli khutbah.
Namanya jarang disebut dalam majelis.
Namun Rasulullah ﷺ mengenalnya. Menyapanya. Memeluknya.
Dan Zahir pun ikut berjihad. Hingga suatu hari, ia gugur di jalan Allah. Tak ada riwayat panjang tentang kematiannya. Tak ada kisah heroik yang masyhur. Namun para ulama sirah menyebutkan bahwa ia wafat dalam keadaan mulia.
Zahir mungkin tak dikenal manusia.
Namun ia dikenal oleh Rasulullah ﷺ.
Dan itu cukup untuk membuat namanya kekal hingga hari ini.
————————
Dunia sering menilai dengan mata, Allah menilai dengan hati
Orang yang diremehkan manusia bisa sangat berharga di sisi Allah
Rasulullah ﷺ memeluk mereka yang sering tak dipeluk siapa pun
Jika Allah mencintaimu, hinaan manusia tak lagi berarti.
Allahumma shalli’ala sayyidina Muhammad wa’ala aali sayyidina Muhammad…