LGDTECH Arkelog Purbakala Kalimantan Selatan

Purbakala Kalimantan Selatan

GUA BABI : MEMBACA ULANG TUJUH TAHAP RISET YANG MEMBENTUK SATU ANGKA 5.050 BP
Mohammad Basyir Zubair
Artikel ini tidak menceritakan ulang apa yang ditemukan di Gua Babi. Ia membaca bagaimana temuan itu terbentuk, laporan demi laporan, tim demi tim, revisi demi revisi, selama hampir tiga dekade. Yang dicari bukan kesalahan orang luar yang melebih-lebihkan situs, melainkan bagaimana proses ilmiah itu sendiri bekerja, berhenti, dan kadang kontradiksi dengan dirinya sendiri.
Kenapa Artikel Ini Ditulis Berbeda
Artikel pertama seri ini membongkar klaim populer yang menempel pada Liang Bangkai, tengkorak raksasa, lukisan dinosaurus, dengan menyandingkannya pada laporan akademik. Pendekatan itu cocok untuk Liang Bangkai, karena jaraknya jauh antara cerita wisata dan data laporan. Gua Babi menuntut pendekatan lain. Di sini nyaris tidak ada legenda ekstrem yang beredar luas di media populer. Yang ada justru sebuah korpus riset yang sudah berjalan sejak 1995, melalui banyak tim, banyak tahap, dan satu laporan sintesis yang dikutip berpuluh kali oleh peneliti lain, namun ternyata dikutip dengan judul yang berbeda-beda, bahkan nomor volume jurnal yang berbeda, oleh sumber-sumber yang semestinya sepadan kredibilitasnya.
Maka artikel ini ditulis sebagai audit proses, bukan audit klaim populer: menelusuri kronologi riset Gua Babi tahap demi tahap, melihat kapan dan bagaimana angka usia situs ini berubah, di mana istilah tahap budaya mulai bercabang antar sumber, dan rekomendasi penelitian mana dari tim aslinya sendiri yang sampai hari ini belum jelas sudah dijalankan atau belum.
Kronologi: Bagaimana Satu Situs Dibangun dari Sembilan Kegiatan Lapangan
Gua Babi terletak di kawasan karst Gunung/Bukit Batubuli, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, sisi barat Pegunungan Meratus, berlawanan arah dari Liang Bangkai yang berada di sisi timur. Bukit ini menyimpan setidaknya tiga gua yang relevan bagi arkeologi prasejarah: Gua Babi (hunian), Gua Tengkorak (penguburan), dan Gua Cupu (disebut dalam laporan sintesis tapi nyaris tidak pernah dibahas terpisah di publikasi mana pun yang tertelusuri).
Tahun
Peristiwa Riset
1995
Survei prasejarah di kawasan Pegunungan Meratus oleh Balai Arkeologi Banjarmasin, titik awal yang mengarahkan tim ke kawasan karst Batubuli.
1996
Ekskavasi pertama Gua Babi, 19 Maret–1 April, sebagai tindak lanjut langsung survei 1995. Desa lokasi tercatat sebagai Desa Randu.
1997
Laporan ekskavasi diterbitkan: Widianto, Simanjuntak & Toha, “Ekskavasi Situs Gua Babi, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan”, Berita Penelitian Arkeologi Balar Banjarmasin 1: 1–48.
1998
Penelitian lanjutan Tahap III dan IV di kawasan Batubuli, memperluas cakupan ke gua-gua sekitar termasuk yang berfungsi sebagai tempat penguburan tradisional.
2002
Survei lanjutan 9–22 Juli oleh tim Sugiyanto, Hartatik, Wasita, dkk., masih dengan tujuan eksplisit menjaring data gua-gua hunian prasejarah lain di Batubuli.
2003
Laporan sintesis Widianto & Handini terbit, inilah laporan yang pertama kali memuat angka radiokarbon 5.050±100 BP. Laporan yang sama ini kemudian dikutip dengan judul dan nomor volume yang berbeda-beda oleh peneliti-peneliti berikutnya (dibahas di bawah).
2013–2022+
Gua Babi dan Gua Tengkorak menjadi rujukan pembanding standar di hampir semua laporan situs gua baru se-Kalimantan Selatan (Liang Bangkai, Gua Batu, Gua Batu Baras), statusnya berubah dari objek penelitian menjadi baseline kronologis kawasan.
FAKTA
Gua Babi berada di kawasan karst Gunung Batubuli, Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, sisi barat Pegunungan Meratus.
Tiga gua yang relevan secara arkeologis ada di kawasan ini: Gua Babi (hunian), Gua Tengkorak (penguburan, individu Australomelanesid, posisi terlipat), dan Gua Cupu (disebut tapi nyaris tanpa data terpisah di publikasi yang tertelusuri).
Bahan baku alat batu di Gua Babi (basalt, rijang, obsidian, jasper) tidak tersedia di gua itu sendiri, didatangkan dari endapan aluvial Sungai Uya sekitar 1,5 km jauhnya, hasil rombakan batuan Gunung Batumanau dan Gunung Lumut.
Dua Angka Usia, Dua Metode, Satu Situs
Di sinilah audit proses menemukan sesuatu yang layak dibedah. Situs Gua Babi punya dua angka usia yang beredar dalam literatur, dan keduanya lahir dari metode yang sama sekali berbeda tanpa pernah secara eksplisit disandingkan dalam satu tulisan.
Angka pertama, “sekitar 6.000 tahun”, muncul dalam uraian budaya Gua Babi yang menyimpulkannya dari kemiripan tipologi alat batu dan pola hidup dengan situs-situs lain, bukan dari uji laboratorium. Yang jarang dikutip ulang adalah kalimat pengandaian yang menyertainya di sumber aslinya: angka itu berlaku “seandainya tingkatan budaya ini merupakan tingkatan budaya murni dan bukan merupakan suatu tradisi budaya”, sebuah syarat metodologis yang, begitu dikutip ulang oleh sumber lain, biasanya menghilang dan menyisakan angka telanjang “6.000 tahun” seolah itu kepastian.
Angka kedua, 5.050 ± 100 BP (setara sekitar 5.688–5.898 tahun kalender/calBP), baru muncul dalam laporan sintesis 2003, hasil uji radiokarbon pada sampel dari kedalaman 70–80 cm (lapisan b). Ini bukan estimasi tipologis, melainkan angka laboratorium sungguhan, dan karenanya lebih kuat secara metodologis dibanding hampir semua angka usia situs prasejarah lain di Kalimantan Selatan yang sudah dibahas dalam seri ini, termasuk Liang Bangkai (Artikel I), yang rentang huniannya justru murni estimasi tipologis tanpa radiokarbon langsung dari situsnya sendiri.
DEBAT ILMIAH
Angka “6.000 tahun” untuk Gua Babi berasal dari penafsiran tipologis yang secara eksplisit disyaratkan kondisional oleh sumber aslinya sendiri (“seandainya tingkatan budaya ini murni…”), syarat yang lazim hilang saat angka ini dikutip ulang di sumber populer/pemerintah daerah.
Angka 5.050±100 BP (≈5.688–5.898 calBP) adalah hasil uji radiokarbon pada sampel lapisan b (kedalaman 70–80 cm), baru muncul di laporan sintesis 2003, tujuh tahun setelah ekskavasi pertama 1996.
Laporan ekskavasi 1996/1998 sendiri mencantumkan rekomendasi eksplisit “perlu dilakukan tes penanggalan absolut”, bukti bahwa tim peneliti sendiri menyadari data usia mereka baru bersifat sementara sampai radiokarbon benar-benar diuji tujuh tahun kemudian.
Dua angka yang sama-sama disebut “usia Gua Babi” sebenarnya adalah dua babak berbeda dari riwayat penelitiannya sendiri: yang satu tebakan terdidik dari tahun-tahun awal, yang satu lagi hasil laboratorium dari tujuh tahun kemudian. Keduanya benar pada masanya, tapi keduanya berhenti dikoreksi begitu berpindah tangan ke luar laporan aslinya.
Preneolitik atau Neolitik? Klasifikasi yang Bercabang
Persoalan kedua lebih mendasar dari sekadar angka: tahap budaya apa yang mewakili Gua Babi? Hampir seluruh literatur akademik yang tertelusuri, laporan Naditira Widya (2013), kajian Berkala Arkeologi (2020), dan rujukan dalam paper osteobiografi Liang Bangkai 10 (AMERTA, 2022), konsisten menyebut budaya Gua Babi dan Gua Tengkorak sebagai preneolitik atau setara “mekanisme hunian gua pasca-Plestosen” bertingkat mesolitik (teknologi batu madya). Namun laman resmi kebudayaan Kabupaten Tabalong sendiri (materi yang mengutip laporan yang sama) menyimpulkan sebaliknya: berdasarkan “ciri-ciri kultural baik teknologi, tipologi, maupun model hidup”, budaya Gua Babi ditafsirkan menempati tahapan budaya Neolitik, satu tingkat lebih maju dari konsensus akademik yang berulang kali dikutip di jurnal-jurnal peer-review.
Ini bukan sekadar beda istilah kosmetik. Preneolitik/mesolitik dan Neolitik menandai dua tahap adaptasi manusia prasejarah yang berbeda, yang pertama masih didominasi berburu-meramu dengan alat serpih bilah, yang kedua sudah dikaitkan dengan domestikasi, gerabah, dan alat batu diasah halus (beliung). Menyebut situs yang sama masuk ke dua kategori berbeda, dari dua sumber yang sama-sama mengklaim berbasis laporan Balai Arkeologi Banjarmasin, menunjukkan bahwa proses transmisi data dari laporan teknis ke penjelasan publik tidak selalu mempertahankan kehati-hatian klasifikasi aslinya.
DEBAT ILMIAH
Literatur akademik peer-review (Naditira Widya, Berkala Arkeologi, AMERTA) secara konsisten mengklasifikasikan budaya Gua Babi/Gua Tengkorak sebagai preneolitik/mesolitik pasca-Plestosen.
Materi kebudayaan resmi Kabupaten Tabalong mengklasifikasikannya sebagai Neolitik, satu tahap lebih maju, meski mengklaim berbasis laporan penelitian yang sama.
Tidak ditemukan publikasi yang secara eksplisit merekonsiliasi kedua klasifikasi ini; keduanya beredar berdampingan tanpa saling merujuk.
Klaim Migrasi ke Sulawesi Selatan: Analogi atau Bukti?
Satu klaim lain yang layak diuji dari sisi metodologi adalah pernyataan bahwa “unsur-unsur budaya alat batu dan alat tukang dari Gua Babi menunjukkan keterkaitan dengan unsur-unsur budaya kehidupan gua di Sulawesi Selatan”, yang kemudian ditafsirkan sebagai indikasi hubungan migrasi purba antara kedua wilayah. Sepanjang penelusuran, klaim ini tidak disertai studi komparatif independen yang menguji kesamaan tersebut secara statistik atau teknologis mendetail (misalnya perbandingan rasio jenis alat, sudut retus, atau analisis petrografi bahan baku), ia berdiri sebagai pengamatan kemiripan bentuk yang kemudian melompat langsung ke kesimpulan migrasi.
Ini pola yang familiar bagi pembaca seri ini: analogi tipologis antar wilayah yang jauh (dalam kasus ini, ribuan kilometer laut antara Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan) adalah hipotesis yang sah untuk diajukan, tapi berbeda statusnya dari bukti yang sudah diuji. Selama belum ada studi pembanding independen, klaim keterkaitan Gua Babi, Sulawesi Selatan sebaiknya dibaca sebagai hipotesis kerja peneliti pertamanya, bukan simpulan yang sudah mapan.
BATAS KLAIM
Klaim keterkaitan budaya alat batu Gua Babi dengan gua-gua hunian Sulawesi Selatan, dan tafsir migrasi purba yang mengikutinya, tidak disertai studi komparatif independen yang tertelusuri (statistik jenis alat, teknik retus, atau petrografi bahan baku).
Klaim ini berstatus hipotesis kerja dari laporan awal, bukan simpulan yang telah diuji ulang oleh penelitian independen berikutnya.
Kejanggalan Kecil yang Menumpuk
Selain dua perdebatan besar di atas, penelusuran korpus Gua Babi menemukan sejumlah kejanggalan kecil yang masing-masing tampak sepele, tapi menumpuk menjadi gambaran tentang bagaimana data arkeologi terdegradasi begitu berpindah dari laporan teknis ke publikasi berikutnya.
Nama desa lokasi situs berbeda antar sumber: laporan-laporan akademik lama secara konsisten mencatat Desa Randu, sementara pemberitaan pemerintah daerah pada 2021 (Banjarmasin Post, mengutip Kepala Bidang Kebudayaan Disdik Tabalong) menyebut Desa Lumbang. Tidak ditemukan penjelasan eksplisit apakah ini pemekaran desa, perubahan batas administratif, atau sekadar kekeliruan penyalinan, pola yang serupa dengan sengketa “Kotabaru vs Tanah Bumbu” yang sudah dibahas untuk Liang Bangkai di Artikel I.
Laporan sintesis 2003 sendiri, sumber tunggal paling banyak dikutip untuk situs ini, beredar dengan dua judul berbeda di berbagai daftar pustaka: “Karakter Budaya Prasejarah di Situs Gua Babi: Mekanisme Hunian Gua Prasejarah Pasca-Plestosen” di sejumlah sumber, dan “Karakteristik Budaya Prasejarah di Kawasan Gunung Batubuli, Kalimantan Selatan: Mekanisme Hunian Gua Pasca-Plestosen” di sumber lain, plus nomor volume Berita Penelitian Arkeologi yang tercatat sebagai 12 di sebagian rujukan dan 13 di rujukan lain. Karena kedua versi konsisten menyebut penulis, tahun, dan rentang halaman yang sama (1–91), hampir pasti keduanya merujuk laporan yang identik, tapi variasi ini menunjukkan bahwa bahkan komunitas akademik sendiri belum menyepakati satu bentuk kutipan baku untuk salah satu rujukan terpentingnya.
BATAS KLAIM
Nama desa lokasi Gua Babi berbeda antar sumber: Desa Randu (laporan akademik) versus Desa Lumbang (pemberitaan resmi Pemkab Tabalong, 2021), tanpa penjelasan eksplisit soal pemekaran wilayah atau koreksi administratif.
Laporan sintesis Widianto & Handini (2003) dikutip dengan dua judul dan dua nomor volume jurnal (12 vs 13) berbeda di berbagai daftar pustaka akademik yang tertelusuri, kemungkinan besar merujuk dokumen yang sama, tapi belum terstandardisasi.
Agenda yang Ditinggalkan Peneliti Sendiri
Salah satu temuan paling berguna dari audit ini bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam korpus itu sendiri: laporan-laporan awal Gua Babi mencantumkan daftar rekomendasi penelitian lanjutan yang eksplisit. Sebagian sudah tampak terjawab oleh riset-riset berikutnya (radiokarbon, misalnya, sudah dilakukan pada 2003). Sebagian lain tidak jelas statusnya sampai hari ini, setidaknya dari publikasi yang berhasil ditelusuri:
AGENDA RISET
Data sisa manusia untuk menjajaki kemungkinan praktik kremasi atau kanibalisme di kawasan Batubuli, tidak ditemukan tindak lanjut publikasi khusus soal ini.
Ekskavasi lanjutan pada kotak-kotak padat temuan untuk memastikan status “multicomponent site” Gua Babi secara lebih jelas.
Ekskavasi gua-gua lain di sekitar Gua Babi, termasuk Gua Cupu, situs yang disebut namanya tapi nyaris tanpa data independen di seluruh publikasi yang tertelusuri untuk artikel ini.
Pemetaan yang lebih luas atas seluruh kawasan karst Batubuli, di luar tiga gua yang sudah diketahui.
Rekonsiliasi eksplisit antara klasifikasi “preneolitik” (mayoritas jurnal akademik) dan “Neolitik” (materi kebudayaan resmi Tabalong) untuk situs yang sama, belum ditemukan publikasi yang membahas keduanya berdampingan.
Penutup: Situs Paling Matang, Bukan Situs Paling Rapi
Dibanding Liang Bangkai, Gua Babi sebenarnya adalah situs yang secara metodologis lebih matang: ia punya angka radiokarbon sungguhan, bukan estimasi tipologis semata, dan riwayat penelitiannya terdokumentasi cukup rinci untuk direkonstruksi tahap demi tahap selama hampir tiga dekade. Tapi “matang secara metodologis” tidak sama dengan “rapi dalam pengarsipan”. Angka usia yang berganti metode tanpa penjelasan eksplisit ke pembaca umum, klasifikasi tahap budaya yang bercabang antara jurnal dan materi pemerintah daerah, judul laporan kunci yang tidak stabil di berbagai daftar pustaka, dan rekomendasi penelitian yang tak jelas nasibnya, semua ini bukan tanda situs yang diragukan keasliannya, melainkan potret biasa dari bagaimana pengetahuan arkeologis benar-benar terbentuk: berlapis, kadang tidak sinkron, dan selalu terbuka untuk diperiksa ulang.
Artikel berikutnya dalam seri ini akan membahas Gua Sugung di Tanah Bumbu, situs pendamping Liang Bangkai yang literaturnya jauh lebih tipis, dan karena itu menuntut jenis kehati-hatian yang berbeda lagi.
Daftar Pustaka
Banjarmasin Post. 2021. “Gua Batu Babi Desa Lumbang Kecamatan Muara Uya, Situs Cagar Budaya Tabalong dari Zaman Prasejarah”, 26 Januari 2021.
Kebudayaan Kabupaten Tabalong (Pamong Budaya Tabalong). “Goa Batu Babi”. Diakses dari pamongbudayatabalong.blogspot.com.
Nia Marniati E. F., Alifah, Wasita, Ulce Oktrivia, Eko Herwanto, Fatom A., Muhammad L. A., Thomas S., dan Reynaldi S. 2024. “Jejak Okupasi Manusia Prasejarah di Situs Gua Batu Baras, Kalimantan Selatan”.
Noerwidi, Sofwan, Ulce Oktrivia, dan Bambang Sugiyanto. 2022. “Osteobiografi Rangka Manusia Situs Liang Bangkai 10, Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan”. AMERTA 40 (1): 87–107.
Sugiyanto, Bambang, dkk. 2002. “Survei Gua-Gua Prasejarah di Kecamatan Muara Uya, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan (9–22 Juli 2002)”. Laporan Penelitian Arkeologi. Banjarbaru: Balai Arkeologi Banjarmasin.
Sugiyanto, Bambang. 2013. “Potensi Situs Gua Hunian Prasejarah di Kawasan Karst Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan”. Naditira Widya 7 (1): 1–11.
Tim penyusun. “Kapita Selekta Arkeologi Kalimantan” (kompilasi laporan penelitian, termasuk rekomendasi penelitian lanjutan Situs Gua Babi).
Wiradnyana, K., dkk. “Gua Batu: Hunian Prasejarah di Pegunungan Meratus, Kalimantan Selatan”. Berkala Arkeologi (versi asli dan versi terjemahan Inggris).
Widianto, Harry, Truman Simanjuntak, dan Budianto Toha. 1997. “Ekskavasi Situs Gua Babi, Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan”. Berita Penelitian Arkeologi Balai Arkeologi Banjarmasin 1: 1–48.
Widianto, Harry dan Retno Handini. 2003. “Karakter Budaya Prasejarah di Situs Gua Babi: Mekanisme Hunian Gua Prasejarah Pasca-Plestosen” / “Karakteristik Budaya Prasejarah di Kawasan Gunung Batubuli, Kalimantan Selatan: Mekanisme Hunian Gua Pasca-Plestosen”. Berita Penelitian Arkeologi Balai Arkeologi Banjarmasin 12/13: 1–91. (Dikutip dengan judul dan nomor volume berbeda di berbagai sumber, lihat pembahasan di atas.)
Please follow and like us:
Pin Share

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *