Dyah Halayudha dikenal dalam sejumlah sumber dan penulisan modern sebagai salah satu tokoh politik penting pada masa awal Kerajaan Majapahit. Ia merupakan mahapatih setelah Nambi, yang sebelumnya menjabat sebagai Patih Majapahit sebelum akhirnya tewas setelah dituduh terlibat dalam pemberontakan.
Setelah Raden Wijaya wafat, takhta Majapahit diteruskan oleh putranya, Jayanegara. Pada masa pemerintahan Jayanegara inilah nama Dyah Halayudha semakin dikenal karena ambisinya yang besar dalam meraih kekuasaan.
Halayudha bukan sosok yang dikenal karena kemenangan di medan perang, melainkan karena kelihaian politiknya. Ia digambarkan mampu membaca situasi istana, memainkan berbagai kepentingan, serta memanfaatkan konflik untuk menyingkirkan orang-orang yang dianggap menghalangi ambisinya.
Sejumlah tokoh penting yang kemudian menjadi korban konflik politik pada masa itu antara lain Ranggalawe, Lembu Sora, dan Nambi. Mereka merupakan tokoh-tokoh yang memiliki jasa besar dalam berdirinya Majapahit. Karena itu, dalam sejumlah karya dan penulisan modern, Dyah Halayudha kerap dijuluki sebagai “Sengkuni Majapahit”—sebuah perbandingan dengan tokoh penghasut dalam kisah Mahabharata.
Ambisinya terhadap kekuasaan membuatnya digambarkan sebagai sosok yang tidak segan menggunakan berbagai cara, mulai dari memainkan isu, memecah belah kekuatan politik, hingga menyingkirkan tokoh-tokoh penting di lingkungan kerajaan.
Namun, kekuasaan yang dibangun melalui kelicikan tidak selamanya bertahan.
Pada tahun 1319 Masehi, pemberontakan Ra Kuti mengguncang Kerajaan Majapahit. Kekacauan tersebut menjadi titik balik yang perlahan membuka berbagai persoalan dan intrik yang selama ini terjadi di lingkungan istana.
Dalam kisah yang berkembang kemudian, kelicikan Dyah Halayudha akhirnya terbongkar. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman berat oleh Raja Jayanegara. Hukuman tersebut dikenal dengan istilah cineleng celeng, yang secara harfiah menggambarkan hukuman dengan cara dicincang seperti babi hutan.
Begitulah akhir kisah seorang tokoh yang digambarkan memiliki ambisi besar terhadap kekuasaan. Ia mungkin lihai memainkan politik, tetapi pada akhirnya, intrik yang ia bangun justru berbalik menjadi jalan menuju kehancurannya sendiri.
Dyah Halayudha—tokoh yang dalam kisah sejarah Majapahit dikenang bukan karena pedangnya, tetapi karena kelihaian memainkan politik dan intrik kekuasaan.